Skip to main content

PICU STBM DENGAN TUJUAN STOP BABS INI YANG DI LAKUKAN UPT PUSKESMAS SUNGAI SALAK

Tempuling,25/02/2018. Kepmenkes no 852/Menkes/SK/IX/2008 yang menjadi acuan dalam pergerakan petugas kesehatan bersama instansi lainnya dalam penyusunan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi yang terkait dengan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) membuat pergerakan penuh dari petugas kesehatan Puskesmas Sungai Salak untuk melakukan pemicuan STBM dengan tujuan agar masyarakat stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sasaran dalam kegiatan yang di laksanakan beberapa waktu lalu oleh Puskesmas Sungai Salak adalah Dusun Sumber Jaya, Desa Karya Tunas Jaya Kecamatan Tempuling, melalui pendekatan kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman akibat BABS oleh pemegang program kesehatan lingkungan (kesling) Puskesmas Sungai Salak Herma Yeni, AMK dan Ayub, AMK di dampingi petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir Zul Akmal, SKM.

Kebiasaan BABS adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahan masalah tersebut juga harus di lakukan secara bersama sama Ujar petugas kesling Puskesmas Sungai Salak Ayub, AMK. Di tambahKannya, pendekatan yang kita lakukan kepada masyarakat adalah pemberdayaan yang tidak membicarakan masalah subsidi. Artinya, masyarakat yang kita jadikan guru dengan sanitasi total yang di pimpin juga oleh masyarakat (Community Lead Total Sanitation) dengan melibatkan fasilitasi atas suatu proses untuk menyemangati serta memberdayakan masyarakat setempat untuk menghentikan buang air besar di tempat terbuka dan membangun serta menggunakan jamban. Selain itu, ucap Ayub metode lain yang digunakan adalah pra para anggota masyarakat untuk menganalisa profil sanitasinya masing masing. Termasuk pengetahuan luasnya penyebaran BABS di tempat terbuka serta penyebaran kontaminasi dari kotoran hingga ke mulut yang dapat mempengaruhi dan memperburuk keadaan setiap orang dan lingkungan.

Pada dasarnya masyarakat cukup menyadari akan luasnya kontaminasi BABS. Dan kita harap pemicuan yang kita lakukan menghasilkan STBM maksimal untuk Dusun Sumber Jaya dan Desa Karya Tunas Jaya. Sehingga menciptakan lingkungan yang sehat untuk masyarakat desa. Tambah Herma Yeni, AMK dan Diakhir kegiatan dilakukan peragaan 7 langkah cara cuci tangan pakai sabun dan air mengalir yang diperagakan oleh Asmuliyanti, SKM. Semoga dengan adanya kegiatan ini sedikit demi sedikit masyarakat mau mengubah perilakunya menjadi lebih baik lagi.

Narasumber : ASMULIYANTI, SKM

UPT PUSKESMAS TEMBILAHAN KOTA MENGGELAR PEMICUAN STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN

Dalam rangka mengimplementasikan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) , UPT Puskesmas Tembilahan Kota menggelar pemicuan Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) kepada masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Seberang Tembilahan Selatan yang diikuti sebanyak 24 orang (Rabu, 20/02/2018).

STBM adalah pendekatan dengan proses fasilitasi yang sederhana yang dapat merubah sikap lama, kewajiban sanitasi menjadi tanggung jawab masyarakat. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Menurut Kepala Puskesmas Tembilahan Kota drg. Hj. Wahyu Winda,M.Si mengatakan bahwa program STBM dinilai sangat tepat dan baik dengan pendekatan untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

“Pada prinsipnya adalah pemicuan, memicu masyarakat terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, dan rasa tanggung jawab yang berkaitan dengan kebiasaan BAB sembarangan”, ucap Wahyu Winda.

“Serta yang harus diperhatikan adalah tanpa subsidi, tidak menggurui, tidak memaksa dan mempromosikan  jamban, masyarakat sebagai pemimpin, totalitas dan seluruh masyarakat terlibat”, tambahnya.

Proses pemicuan tersebut meliputi bina suasana, diskusi masalah sanitasi disekitar lokasi pemicuan, pemetaan, transeck walk, simulasi air serta FGD (Foccus Group Discussion). Masyarakat dinilai antusias dan terpicu meski masih ada beberapa masyarakat yang belum setuju untuk membuat jamban sehat.

”Setelah dilakukan kegiatan pemicuan ini, kami berharap masyarakat Seberang Tembilahan Selatan bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama perubahan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS)”, tutupnya.

Editor : Saipur Rahman

Sumber : Tenaga Promkes Upt Puskesmas Tembilahan Kota Monica Julya Hidayad, SKM

UBAH PERILAKU MASYARAKAT AGAR MENGGUNAKAN JAMBAN SEHAT, INI YANG DILAKUKAN UPT PUSKESMAS PELANGIRAN

IMG-20171010-WA0056Upt Puskesmas Pelangiran melakukan kegiatan pemicuan STBM di Desa Teluk Bunian, yang dipusatkan  di balai Desa Teluk Bunian, kegiatan ini di hadiri oleh Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bidan Desa, Ketua Tim Penggerak PKK, Kaur Pembangunan, Kepala Dusun, Ketua RT, Toma, Pamsimas Desa (9/10/217).

STBM merupakan suatu pendekatan yang dilakukan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Masyarakat yang masih buang air besar (BAB) sembarangan dipicu menggunakan elemen-elemen picu, baik itu rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa takut dosa, rasa takut akan kemiskinan dan lain sebagainya.

Kepala Desa Teluk Bunian Zulkifli, SH dalam arahannya berharap agar warga Teluk Bunian semuanya menyadari akan pentingnya hidup sehat yaitu dengan mengunakan jamban sehat,dan berharga agar warganya yang masih mengunkan jamban tidak sehat agar beralih kejamban yang sehat.

“Dengan adanya kegiatan ini, semoga masyarakat sadar akan pentingnya hidup sehat”, ucapnya

“Salah satu pola hidup sehat adalah BAB dengan mengunakan jamban sehat”, tutupnya

Sementara itu Kepala Upt Puskesmas Pelangiran Imam Santoso, S.ST, MM mengatakan bahwa permasalah jamban sehat di daerah memang sulit terlaksana karena biaya pembuatan yang sangat besar, tapi masyarakat dapat melakukan arisan jamban agar secara bertahap masyarakat didesa semuanya memiliki jamban sehat, karena dengan buang air besar sembarangan (BABS) dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan datangnya bahaya penyakit kulit dan diare.

“Permasalahan untuk membuat jamban sehat adalah dana yang besar, akan tetapi bisa kita atasi dengan arisan jamban”, ucap Imam Santoso

Untuk mendukung program tersebut maka diadakan program pemicuan kepada masyarakat untuk stop BAB sembarangan dengan sasaran masyarakat yang dipicu adalah mereka yang tidak memiliki jamban dan yang masih berprilaku buang air besar sembarang (BABS).

“Semoga masyarakat Desa Teluk Bunian dapat menyadari dan merubah prilaku yang ber-phbs yaitu tidak lagi buang air besar sembarangan”, harapnya

“Kedepannya diharapkan Desa Teluk Bunian bisa menjadi Desa ODF( open defecation free) atau desa yang 100% masyarakatnya tidak ada lagi yang BAB yang sembarangan”, tutupnya

Editor : Wahyu Ramadhan, SKM Promkes Upt. Puskesmas Pelangiran

DINAS KESEHATAN GELAR PERTEMUAN SOSIALISASI STBM SE-KABUPATEN INHIL

DSCF6957Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Asiah, M.SST, M.Kes selaku panitia pelaksana dalam laporannya mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah terlaksananya pertemuan Peningkatan Kapasitas Sanitasi Puskesmas dalam rangka pengawasan sarana TTU/TPM se-kabupaten Indragiri Hilir dengan baik dan lancar, serta kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait pengawasan TTU/TPM dapat berjalan baik, pencatatan dan pelaporan bulanan puskesmas dapat dijalankan dan dilaporkan secara rutin dan setiap bulan.

Kepala Dinas Kesehatan H. Zainal Arifin, S.K.M. M.Kes mengatakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah suatu program nasional dibidang sanitasi yang bersifat lintas sektoral, dengan pendekatan untuk mengubah perilaku hygene dan sanitasi pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

Strategi Nasional STBM memiliki dua indicator :

Indicator outcome yaitu : menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lain yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Indicator output yaitu : tidak BAB sembarangan (SBS), mencuci tangan pakai sabun (CTPS), mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah yang benar, dan mengelola limbah cair rumah tangga yang aman.

“Faktor terbesar seseorang itu sehat atau sakit itu dipengaruhi oleh lingkungan. Kenapa lingkungan disebut, karena pengaruhnya sangat besar. Contohnya Air yang digunakan tidak sehat, maka akan sangat mudah terserang penyakit”, terang H. Zainal Arifin

“Tahun 2018 setiap puskesmas memiliki sumber air bersih dan penyaringan,ujarnya

“Fokus kita kedepannya adalah bagaimana masyarakat menggunakan air bersih setiap saat, terang Kadiskes.

Dalam pertemuan ini kami berharap ada tanya jawab mengenai kesehatan. Dan ada tindak lanjut. Kami sengaja mengundang kepala desa agar bisa memberikan dukungan STBM di masyarakat desa.

“Kami yakin jika dapat dukungan dari kepala desa akses untuk penggunaan jamban sehat ini akan meningkat”, tutup Kadiskes.

Narasumber  Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Kabid Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat PMD Kabupaten Inhil dan Tenaga Pamsimas (Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat) Provinsi Riau. Peserta pertemuan adalah Kepala Desa sebanyak 30 orang, Kepala Upt Puskesmas sebanyak 27 orang dan Pengelola Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas sebanyak 13 orang.

 

PERLUNYA KESADARAN TIDAK BABS KE SUNGAI DEMIKIAN TANGGAPAN PUSKESMAS TELUK PINANG DALAM HAL INI

IMG-20170315-WA0033Teluk Pinang, 15/03/17 Untuk menekan angka kematian akibat diare, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir telah mencanangkan dan bersegera membuat sanitasi termasuk toilet yang sehat bagi masyarakat. Hal ini selaras dengan kegiatan yang dicanangkan pemerintah dalam bentuk Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Menanggapi hal itu, Dalam mendukung Program Pemerintah tersebut UPT Puskesmas Teluk Pinang bersamaan dengan pelaksanaan Posyandu balita yang rutin tiap bulannya melaksanakan penyuluhan kesehatan yang salah satunya mengenai kesehatan penggunaan air bersih.

“Berdasarkan Riset yang dilakukan UNICEF dan WHO, yang menyatakan lebih dari 370 balita Indonesia meninggal akibat perilaku buruk BAB sembarangan, untuk mengatasi hal ini perlu adanya perhatian khusus dari Puskesmas setempat khususnya wilayah kerja UPT Puskesmas Teluk Pinang mendapatkan pemahaman mengenai dampak berbahaya dari perilaku buang air besar sembarangan (BABS) ke aliran sungai karena dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai penyakit dari tercemarnya air sungai tersebut”, demikian tutur Bpk. Kurota Ayun, SKM kepada MCT Dinkes INHIL.

IMG-20170315-WA0030Penyuluhan kesehatan PHBS yang dipusatkan di Posyandu Anggur Parit 10 Teluk Pinang ini dilaksanakan sekira pukul 08.30 WIB dengan materi PHBS Rumah Tangga oleh Ibu Suliyana, Amk sebagai pemegang Program Promkes di Puskesmas Teluk Pinang. Disamping sosialisasi PHBS kegiatan ini juga disertai dengan Posyandu Lansia.

Walau telah berulang kali disampaikan akan tetapi Sosialisasi PHBS ini dianggap penting dan diharapkan masyarakat selalu diberikan penyegaran ilmu secara berkelanjutan sehingga menumbuhkan kesadaran dan berhijrah kepada pola perilaku hidup yang sehat dengan menggunakan jamban yang sesuai dengan kriteria Kesehatan.