Skip to main content

KELAS IBU BALITA UPT. PUSKESMAS SAPAT

Kelas Ibu Balita merupakan kelas dimana para ibu yang mempunyai anak berusia 0-5 tahun secara bersama-sama berdiskusi, tukar pendapat, tukar pengalaman akan pemenuhan pelayanan kesehatan, gizi, dan stimulasi pertumbuhan dan perkembangannya dibimbing oleh fasilitator dengan menggunakan buku KIA.

SABTU, 06/04/19. Puskesmas Sapat mengadakan Kegiatan kelas ibu balita, kegiatan ini dilaksanakan di gedung serba guna pulau mas kelurahan Sapat Kecamatan Kuindra oleh Penanggung jawab  Program KIA bersama Tenaga pelaksana gizi UPT. puskesmas Sapat guna meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku ibu balita sehingga terwujud tumbuh kembang anak yang optimal.

Adapun Manfaat Bagi ibu balita dan keluarganya, kelas ibu balita merupakan sarana untuk mendapatkan teman, bertanya, dan memperoleh informasi penting yang harus dipraktekkan. Dan Bagi petugas kesehatan, penyelenggaraan kelas ibu balita merupakan media untuk lebih mengetahui tentang kesehatan ibu balita, anak dan keluarganya serta dapat menjalin hubungan yang lebih erat dengan ibu balita serta keluarganya dan masyarakat.

RamadaSari Amd.Gz selaku pemateri menjelaskan “bahwa kegiatan kelas balita merupakan kegiatan  partisipatif artinya para ibu tidak diposisikan hanya menerima informasi karena posisi pasif cenderung tidak efektif dalam merubah perilaku. Oleh karena itu kelas ibu balita dirancang dengan metode belajar partisipatoris, dimana si ibu tidak dipandang sebagai murid melainkan sebagai warga belajar. Dalam prakteknya para ibu di dorong untuk belajar dari pengalaman sesama, sementara fasilitator berperan sebagai pengarah kepada pengetahuan yang benar. Pelan-pelan metode seperti ini bisa di ikuti oleh peserta, terlihat dari respon ibu-ibu pada pertemuan ini yang mau di ajak berdiskusi terkait pemberian Asi eksklusif dan makanan dengan gizi seimbang untuk balita”.

 

Sumber : Ahmad Syarif, SKM (promkes Puskesmas Sapat)

CEGAH PENYAKIT TIDAK MENULAR, PUSKESMAS SUNGAI PIRING BENTUK POSBINDU PTM DI SEKOLAH

Sungai Piring 1 April 2019. PTM (Penyakit Tidak Menular) bisa di cegah salah satunya dengan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM). UPT. Puskesmas Sungai Piring dalam hal ini melakukan kegiatan POSBINDU PTM dengan semboyan “mari menuju masa muda sehat, tua nikmat tanpa penyakit tidak menular dengan perilaku cerdik”.

Kegiatan POSBINDU PTM ini di lakukan sebab Akhir-akhir ini terjadi pergeseran pola penyakit yang sebelumnya di dominasi oleh penyakit menular, namun pada saat sekarang ini di dominasi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung koroner, hypertensi, diabetes dll. penyakit ini membutuhkan waktu cukup lama untuk sembuh dan biaya yang tidak sedikit.

Kegiatan ini melibatakan anak remaja sekolah yang tanpa disadari bahwa sudah ada bibit penyakit dalam tubuhnya akibat perilaku tidak sehat seperti merokok, pola jajan dan konsumsi makanan yang tidak sehat, obesitas serta kurangnya melakukan aktifitas fisik di kalangan remaja sekolah.

untuk menindak lanjuti secara dini faktor risiko yang di temukan pada kasus penyakit tidak menular maka petugas UPT puskesmas Sungai Piring memberikan konseling dan merujuk ke faskes terdekat.

Menurut kepala Puskesmas Sungai Piring melalui Penanggung Jawab POSBINDU PTM Risa Anastasia,Amd.Keb mengatakan, kegiatan ini rutin kita laksanakan setiap bulan di sekolah dengan sasaran remaja sekolah agar remaja secara dini dapat mengetahui dampak dari penyakit tidak menular tersebut. terangnya di akhir kegiatan.

 

Sumber : Tuti Auliyah, SKM (Promkes Puskesmas Sungai Piring)

UPT PUSKESMAS SUNGAI PIRING BERSAMA LINTAS SEKTOR BENTUK ARISAN JAMBAN

30 Maret 2019. Desa Simpang Jaya yang terletak tidak jauh dari desa Sungai Luar , kecamatan Batang Tuaka terpilih untuk mengikuti lomba desa ber PHBS dan desa TOGA (tanaman obat keluarga) di tingkat kabupaten.

UPT. Puskesmas Sungai Piring , yang juga di hadiri oleh kasi KESLING Dinas Kesehatan kabupaten Indragiri Hilir, camat Batang Tuaka, koramil, kepala desa melakukan peninjauan dan Pembenahan ke lokasi desa Simpang Jaya.

Untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih sehat lagi dalam kegiatan ini UPT. Puskesmas Sungai Piring bersama lintas sektor turut serta mengajak masyarakat di desa tersebut membuat jamban dengan sistem arisan jamban, Terciptanya Arisan ini disebabkan karena masih ada sekitar 60 KK yang belum mempunyai jamban. dan juga masih adanya masyarakat yang memanfaatkan aliran sungai Batang Tuaka untuk di jadikan tempat mencuci, mandi dan buang Air  bahkan sungai masih dijadikan tempat membuang sampah. Perilaku ini disebabkan oleh kebiasaan yang turun-temurun di lakukan karna ketidak mampuan masyarakat serta ekonomi juga menjadi penyebab utama dan kurangnya pendidikan serta pengetahuan mereka tentang kesehatan.

Arisan ini dibuat dengan sistem iuran bertarif setiap minggu, dengan iuran 20.000.00 (Dua Puluh Ribu Rupiah) untuk satu (1) rumah dan arisan ini di undi setiap minggunya.

Kepala UPT. Puskesmas Sungai Piring Hj. Nur’afni, S.Tr. Keb mengatakan “sistem arisan jamban ini kita buat gunanya untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dan belum mempunyai jamban sehat. ujarnya

 

Sumber : Tuti Auliyah, SKM ( Promkes Puskesmas Sungai Piring )

MENINGKATKAN KESEHATAN MASYARAKAT, UPT. PUSKESMAS SUNGAI ILIRAN MELAKSANAKAN KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI PUSTU FLAMBOYAN

Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya Lansia Upt. Puskesmas Sungai Iliran melaksanakan kegiatan Posyandu Lansia di Pustu Flamboyan Pusat Desa Sungai Iliran, Selasa ( 12/03/2019).

Kegiatan pemeriksaan Lansia langsung ditangani oleh dr. Fajar Dewanto dan Bidan Marlina. Dalam hal ini ada beberapa Lansia yang diperiksa, berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit yang sering diderita Lansia adalah Hipertensi ( Darah Tinggi ).

Dalam hal ini sasaran Posyandu Lansia yaitu kelompok pra usia lanjut ( 45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun keatas) dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun keatas).

Semoga dengan adanya Posyandu Lansia bisa meningkatkan derajat kesehatan Lansia untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

UPT. PUSKESMAS KOTA BARU MELAKUKAN PENYULUHAN DBD, PEMBUATAN LAVITRAP DAN FOGGING DI DESA PEBENAAN

Mencegah terjadinya kasus Demam Berdarah Dangue ( DBD), Upt. Puskesmas Kota Baru melakukan penyuluhan DBD, Pembuatan Lavitrap dan Fogging.

Kegiatan ini dihadiri oleh Petugas Kesehatan Lingkungan Hj.Erniwaty , Bidan Desa Hartati dan masyarakat setempat, kegiatan tersebut dilaksanakan di salah satu rumah warga di Desa Pebenaan, sabtu ( 09/03/2019). Dalam penyuluhan ini petugas Kesling menjelaskan tentang cara-cara mencegah terjadinya demam berdarah dangue, adapun cara untuk mencegahnya adalah dengan 3M PLUS :

  1. Pertama yaitu menguras jumlah tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum.
  2. Kedua menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti drum, kendi, dan tempat air lainnya.
  3. Ketiga memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah.

Setelah memberikan penyuluhan tentang mencegah terjadinya DBD, Petugas Kesling dan Bidan Desa juga langsung memberikan pengetahuan bagaimana cara pembuatan lavitrap, adapun alat dan bahan yang di butuhkan untuk pembuatan lavitrap yaitu botol aqua bekas yang 1500 ML, air putih, gula merah, ragi bahan pembuat tape, lem perekat dan kresek berwarna hitam gelap. Sedangkan untuk cara pembuatannya yaitu semua bahan seperti gula dan ragi dihaluskan ditambah air lalu di masukkan ke dalam botol bekas aqua yang sudah di potong jadi 2 bagian lalu di lem pakai kresek hitam tersebut.

Selain memberikan penyuluhan DBD dan cara pembuatan Lavitrap, petugas Kesling juga melakukan fogging di RW 03 RT 01 Desa Pebenaan.

Dalam hal ini Kepala UPT. Puskesmas Kota Baru Yuheldi, S.Hum mengatakan masyarakat sangat antusias dengan kegiatan penyuluhan DBD, Fogging terlebih lagi dengan adanya pengetahuan cara pembuatan lavitrap karena lebih mudah untuk dipergunakan di rumah.