Puskesmas Pengalihan Enok melakukan pemicuan Stop BABS di setiap masing-masing dusun wilayah kerja Puskesmas Pengalihan Enok dengan tujuan yaitu agar masyarakat dapat lebih memahami dan peduli akan pentingnya hidup sehat salah satunya dengan melakukan kegiatan pemicuan Stop BABS. (16/07/2018)

Pemicuan adalah metode untuk mendorong masyarakat agar terdorong melakukan perubahan perilaku. Metode ini umum diterapkan dalam Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Salah satunya pilar pertama yaitu Stop BABS .

“Pelaksanaan program sanitasi berbasis masyarakat ini tidak menjanjikan insentif modal dan tidak ada pola khusus yang diberikan”, ungkap Megawati, SKM selaku pemegang program kesling Puskesmas Pengalihan Enok

“Semuanya mengalir, alami, tidak ada paksaan, dan hebatnya hampir semua masyarakat ikut berpartisipasi”, tambahnya

Lebih lanjut Megawati mengungkapkan, masyarakat diminta untuk membuat peta wilayah tempat mereka tinggal. Peta tersebut dapat digambar di atas tanah, atau serbuk gergaji atau bahan apapun yang tersedia Mereka menentukan beberapa tempat yang biasa dipakai buang air besar. Bersama-sama masyarakat menentukan titik-titik tersebut. Berikutnya petugas memberi penjelasan berapa banyak volume tinja yang mereka buang. Juga bahaya bakteri ecoli yang ada dalam tinja bagi kesehatan manusia.

“Sayangnya, tidak semua masyarakat tergerak hatinya untuk ikut program sanitasi ini”,tutupnya

Kegiatan pemicuan ini juga bergabung dengan lintas program promkes (promosi kesehatan) melakukan kegiatan CLTS/ cuci tangan pakai sabun dengan mempraktekkan kepada masyarakat agar tahu bagaimana proses kuman yang masuk kedalam tubuh.

“Dalam kegiatan pemicuan ini juga akan dibuat kontrak sosial kepada masyarakat, dimana masyarakat jika ingin merubah perilaku mereka akan membentuk arisan jamban dengan 100 ribu per orang dalam satu bulan sebanyak 10 orang”, ungkap Rahayu. SKM selaku tenaga program promkes (promosi kesehatan) Puskesmas Pengalihan Enok

“Pembuatan jamban ini tidak perlu membutuhkan biaya besar cukup dengan hanya 1 juta saja, kenapa seperti itu? Karena dalam pembuatan jamban yang sangat di perhatikan itu adalah tempat pembuangannya harus ada meskipun dengan menggunakan drum bekas, dan tidak ada lagi masyarakat yang buang air besar di sungai ataupun dikebun”, tambahnya

Lebih lanjut Rahayu menjelaskan masyarakat diberi penguatan akan pentingnya kesehatan bagi diri, keluarga dan masyarakat. Setelah muncul kesadaran, maka harus tersedia sarana yang dibutuhkan untuk mencapai lingkungan yang sehat.

“Untuk kami tidak henti-hentinya memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bagaiaman merubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat”, ungkapnya

“Mari dukung bersama-sama dalam program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) khususnya dalam kegiatan Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan)”, tutupnya

Tinggalkan Balasan

Silakan Masukkan Komentar Anda
Silakan Masukkan Nama Anda Disini