Skip to main content

Berita Kesehatan

Sambut Senin Pertama di Tahun 2022, Pegawai di Dinas Kesehatan dan Seluruh Puskesmas di Kabupaten Indragiri Hilir Mengikuti Apel Pagi

Memulai hari kerja di tahun 2022, ASN (Aparatur Sipil Negara) dan non ASN Dinas Kesehatan Indragiri Hilir mengikuti apel pagi yang dimulai pukul 07.30 WIB. Sesuai arahan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, apel pagi setiap pagi Senin wajib dilaksanakan di lingkungan dinas dan instansi pemerintahan. Kegiatan ini juga harus mengikuti prosedur protokol kesehatan dan perkembangan kasus Covid-19 di masing-masing daerah.

Kegiatan apel pagi di Dinas Kesehatan Indragiri Hilir, 3 Januari 2022. (Foto : dok. dinkes inhil)

Apel pagi juga dilaksanakan di puskesmas-puskesmas yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir.

Puskesmas Enok

(Foto : dok. Puskesmas Enok)

Puskesmas Guntung

(foto : dok. Puskesmas Guntung)

Puskesmas Kotabaru

(foto : dok. Puskesmas Kotabaru)

Puskesmas Pelangiran

(foto : dok. Puskesmas Pelangiran)

Puskesmas Tembilahan Hulu

(foto : dok. Puskesmas Tembilahan Hulu)

Puskesmas Mandah

(foto : dok. Puskesmas Mandah)

Puskesmas Tanah Merah

(foto : dok. Puskesmas Tanah Merah)

Puskesmas Teluk Pinang

(foto : dok. Teluk Pinang)

Puskesmas Teluk Belengkong

(foto : dok. Teluk Belengkong)

Puskesmas Tempuling

Petugas Puskesmas Tempuling mengikuti apel pagi bersama di halaman kantor Kecamatan Tempuling.

(foto : dok. Puskesmas Tempuling)

Selamat memulai hari kerja di tahun 2022. Semoga selalu diberi kesehatan untuk bekerja dan berkarya.***

Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting pada Desa Tanjung Pasir

Grafik Presentase stunting Desa Tanjung Pasir Kec. Tanah Merah Tahun 2020 dan 2021

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah dari ( 33 orang) atau sebesar  15,64 % ditahun 2020 menjadi (10 orang) atau 5,35 % pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Desa Tanjung Pasir, Namun perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapatnya lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Desa Tanjung Pasir.

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Merah guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah dengan :

  1. ASI Ekslusif dan IMD
  2. pendidikan gizi untuk ibu hamil
  3. pemberian TTD untuk ibu hamil,
  4. Pemberian makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
  5. pemberian mikro, nutrient (taburia)
  6. sosialisasi GEMARIKAN
  7. program penyehatan lingkungan
  8. penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi
  9. Intervensi spesifik dan sensitive penanggulangan stunting di desa lokus

Dengan faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Lingkungan
2. Pola Asuh
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
4. Kesehatan Reproduksi

Serta kelompok sasaran yang harus diperhatikan adalah :
1. Remaja Putri
2. Calon Pengantin
3. Ibu Hamil
4. Balita

Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting pada Kelurahan Kuala Enok

Grafik Presentase stunting Kelurahan Kuala Enok Kec. Tanah Merah Tahun 2020 dan 2021

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah dari 20,75 % ditahun 2020 menjadi 3,98 % pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kelurahan Kuala Enok, Namun perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapatnya lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Kelurahan Kuala Enok.

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kelurahan Kuala Enok Kecamatan Tanah Merah guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah dengan :

  1. ASI Ekslusif dan IMD
  2. pendidikan gizi untuk ibu hamil
  3. pemberian TTD untuk ibu hamil,
  4. Pemberian makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
  5. pemberian mikro, nutrient (taburia)
  6. sosialisasi GEMARIKAN
  7. program penyehatan lingkungan
  8. penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi
  9. Intervensi spesifik dan sensitive penanggulangan stunting di desa lokus

Dengan faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Lingkungan
2. Pola Asuh
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
4. Kesehatan Reproduksi

Serta kelompok sasaran yang harus diperhatikan adalah :
1. Remaja Putri
2. Calon Pengantin
3. Ibu Hamil
4. Balita

Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting pada Kecamatan Tanah Merah

Grafik Presentase stunting Kecamatan Tanah Merah Tahun 2020 dan 2021

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kecamatan Tanah Merah dari ( 177 orang ) atau 7,87 % ditahun 2020 menjadi (76 orang) 4,02 % pada tahun 2021 Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kecamatan Tanah Merah, Namun perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapatnya lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Kecamatan Tanah Merah.

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Tanah Merah guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah dengan :

  1. ASI Ekslusif dan IMD
  2. pendidikan gizi untuk ibu hamil
  3. pemberian TTD untuk ibu hamil,
  4. Pemberian makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
  5. pemberian mikro, nutrient (taburia)
  6. sosialisasi GEMARIKAN
  7. program penyehatan lingkungan
  8. penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi
  9. Intervensi spesifik dan sensitive penanggulangan stunting di desa lokus

Dengan faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Lingkungan
2. Pola Asuh
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
4. Kesehatan Reproduksi

Serta kelompok sasaran yang harus diperhatikan adalah :
1. Remaja Putri
2. Calon Pengantin
3. Ibu Hamil
4. Balita

Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting pada Desa Simpang Kateman

Grafik perbandingan angka stuting Tahun 2020 dan 2021 pada Desa Simpang Kateman

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

 Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting secara signifikan di Desa Simpang Kateman di tahun 2020  55% dan 2021 5,2%. Hal ini menunjukkan adanya konvergensi program/intervensi Upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Desa Simpang Kateman Kecamatan Kateman.

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Desa Simpang Kateman Kecamatan Kateman guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah dengan :

  1. ASI Ekslusif dan IMD
  2. pendidikan gizi untuk ibu hamil
  3. pemberian TTD untuk ibu hamil,
  4. Pemberian makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
  5. pemberian mikro, nutrient (taburia)
  6. sosialisasi GEMARIKAN
  7. program penyehatan lingkungan
  8. penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi
  9. Intervensi spesifik dan sensitive penanggulangan stunting di desa lokus

Dengan faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Lingkungan
2. Pola Asuh
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
4. Kesehatan Reproduksi

Serta kelompok sasaran yang harus diperhatikan adalah :
1. Remaja Putri
2. Calon Pengantin
3. Ibu Hamil
4. Balita