Dinas Kesehatan menggelar Pertemuan Pembinaan dan Pengawasan Terhadap Anggota Asosiasi Depot Air Minum (DAM) se-Kab.Inhil (07/05/2018), yang dipusatkan di Aula Hotel Inhil Pratama. Adapun jumlah peserta yang hadir dalam pertemuan ini sebanyak 72 orang peserta yang terdiri dari penyedia DAM sebanyak 45 orang dan puskesmas 27 orang.

Kabid Kesehatan Masyarakat Hj. Devi Natalia SKM MH, yang dalam hal ini diwakili oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kasi Kesehatan Lingkungan kesehatan kerja dan olahraga H.M Nurung Amk,, selaku ketua panitia pelaksana kegiatan dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas air minum sesuai syarat kesehatan maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :

  • Memperhatikan dari segi kualitas air baku sebelum di olah menjadi air minum
  • Memperhatikan dan menjaga kualitas air minum dari cemaran bakteriologi
  • Penggunaan alat pelindung diri bagi karyawan depot air minum
  • Memperhatikan proses kemasan air minum

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan H. Zainal Arifin SKM, M.Kes yang dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Dinas Kesehatan H. Ridwan S.sos., M.Kes  mengatakan dalam memenuhi kebutuhan air, manusia selalu memperhatikan kualitas dan kuantitas air. Kualitas yang cukup diperoleh dengan mudah karena adanya siklus hidrologi yakni siklus ilmiah yang mengatur dan memungkinkan tersedianya air permukaan dan air tanah. Namun demikian, pertumbuhan penduduk dan kegiatan manusia menyebabkan pencemaran sehingga kualitas air yang baik dan memenuhi persyaratan tertentu sulit diperoleh.

“Depot air minum adalah usaha yang melakukan pengolahan air baku menjadi air minum dan menjual langsung pada konsumen”, ucap Ridwan

Lebih lanjut Beliau mengungkapkan Dampak positif depot air minum adalah menyediakan air minum yang kualitasnya aman dan sehat bagi konsumen, menyediakan air minum yang memenuhi kuantitas dan menyediakan air minum secara terus menerus untuk menunjang kebutuhan rumah tangga. Disisi lain, perkembangan  depot air minum berpotensi menimbulkan dampak negative apabila tidak adanya regulasi yang efektif. Isu yang mengemuka saat ini adalah rendahnya jaminan kualitas air minum yang dihasilkan, sehingga apabila hal tersebut tidak dikendalikan akan menyebabkan kerugian bagi kesehatan misalnya keracunan zat kimia dan penyebaran penyakit melalui air.

“Masalah yang muncul akibat rendahnya mutu pengawasan adalah banyaknya depot air minum yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan laporan kami terima dari pemeriksaan sampel air yang diperiksa di BTKL Batam masih merah artinya masih banyak yang mengandung E.Coli dan Coliform”, tambahnya

Masyarakat sebagai konsumen air minum perlu dilindungi haknya, seperti yang tertulis dalam UU Republik Indonesia Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen. Bahwa konsumen memiliki ha katas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa dan hak atas  informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa.

“Dengan adanya pertemuan ini, bagi seluruh pemilik depot air minum (DAM) dapat lebih memperhatikan kualitas dan kuantitas air minum yang dihasilkan sesuai syarat-syarat kesehatan”, tutupnya

Tinggalkan Balasan

Silakan Masukkan Komentar Anda
Silakan Masukkan Nama Anda Disini