fb_img_1466131023501

Secara mendadak, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Riau bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (disperindag) dan Dinas Kesehatan Inhil mendatangi sejumlah pasar yang ada di kota Tembilahan, Kamis (16/6/2016). Adapun pasar-pasar yang didatangi tersebut seperti Pasar Selodang Kelapa, Pasar Parit 11 dan Pasar Kayu Jati Tembilahan.

Dari beberapa pasar tersebut, diambil sebanyak 26 sampel makanan yang dipilih secara acak. Berdasarkan pantauan Media Center Team di lapangan, sampel yang dipilih secara acak itu adalah sejumlah makanan yang warnanya terlihat sangat mencolok dari yang lainnya. Adapun sejumlah makanan yang diambil oleh pihak BBPOM untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan adalah kurma, tahu, terasi, bakso, ikan asin, kolang-kaling, cincau, aneka jenis kerupuk, semangka, dan lain sebagainya.

”Setelah ini akan kita cek di Dinas Kesehatan, kemungkinan satu jam lagi sudah kita ketahui hasilnya,” sebut pihak BBPOM.

Dari 26 sampel yang diambil BPPOM, lima diantaranya terdeteksi mengandung rhodamin B atau pewarna sintesis makanan. Adapun lima sampel yang terbukti mengandung zat berbahaya itu adalah, delima dan terasi.

”Dari 26 sampel, satu takjil mengandung rhodamin B yaitu delima. Tiga delima yang kita sampling, satu positif. Sedangkan empat bungkus terasi yang kita ambil, semua positif rhodamin B,” jelas Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BPPOM Riau, Adrizal usai melakukan sidak pada sejumlah penjual takjil, kamis sore.

Ia menjelaskan, sejak 1985, melalui Menteri Kesehatan, Rhodamin B dilarang penggunaannya di Indonesia. WHO secara resmi juga telah mengumumkan bahwa zat tersebut berbahaya karena kandungan logam berat dan sifat kimiawinya.

”Jangka pendeknya jika mengkonsumsi makanan yang mengandung Rhodamin B bisa mengganggu pencernaan. Jangka panjangnya bisa merusak hati dan ginjal,” tutupnya.

Sending
User Review
0 (0 votes)

Tinggalkan Balasan

Silakan Masukkan Komentar Anda
Silakan Masukkan Nama Anda Disini