Kegiatan yang di gelar di Aula hotel Inhil Pratama (IP) Rabu (11/4/2018) malam dibuka oleh kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil H Zainal Arifin SKM MKES yang diwakili oleh Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Kesehatan Ns Matzen, turut dihadiri Kasi P3M Bidang P2P Yon Petrus SKM MKES, narasumber dari Seksi Kecacingan Subdit Filariasis dan Kecacingan Kemkes RI dr Dauris Arianti, Para peserta sosialisasi yang merupakan kepala Puskesmas Se-kabupaten Inhil dan para pemenang program.

Dalam sambutannya saat membuka sosialisasi tersebut, Matzen mengatakan, Indonesia masih memiliki banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satunya adalah penyakit cacingan yang dapat ditularkan melalui tanah.

“Cacingan juga dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan gizi, kecerdasan dan produktivitas penderitanya. Sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian. Cacingan menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. WHO juga menyatakan bahwa di samping penyakit malaria, lebih dari 10 kesakitan penduduk di negara berkembang disebabkan oleh infeksi parasit cacing”, sebutnya.

Selain itu dikatakan Matzen prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu dengan sanitasi buruk. Prevalensi kecacingan bervariasi antara 2,5 persen sampai dengan 62 persen.

“Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 tahun 2015 tentang organisasi dan tata kerja Kementerian Kesehatan program pengendalian kecacingan berpindah Direktorat dan Direktorat pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung di Subdit pengendalian diare dan cacingan ke Direktorat pencegahan dan pengendalian tular vektor dan Zonotik di subdit filariasis dan cacingan sehingga diharapkan integrasi program pengendalian cacingan dengan program pengendalian filariasis akan berjalan lebih mudah karena dalam POPM filariasis diberikan obat diethylamide carbamazine icitaret dan albendazole yang juga merupakan obat cacing”, jelasnya.

Selain mempengaruhi asupan makanan, cacingan juga dapat mempengaruhi pencernaan, penyerapan dan metabolisme. Secara kumulatif infeksi cacing atau cacingan dapat menimbulkan kerugian terhadap kebutuhan zat gizi dan kerugian lain yang kini telah dapat dihitung berdasarkan efek dari cacingan yang dapat ditimbulkan.

“Penanggulangan cacingan dimulai dengan mengurangi prevalensi infeksi cacing dengan membunuh cacing tersebut melalui pengobatan untuk menekan intensitas infeksi, sehingga dapat memperbaiki derajat kesehatan. Namun pengobatan cacingan harus disertai dengan upaya berperilaku hidup bersih dan sehat sanitasi lingkungan serta asupan makanan bergizi”, pesannya.

Masih dikatakan Matzen, Prevalensi cacingan dapat menurun bila infeksi cacingan pada anak sekolah dapat dikendalikan. Bank Dunia juga menyimpulkan bahwa di negara berkembang tindakan paling efektif adalah dengan memberikan obat cacingan untuk anak usia sekolah.

“Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka pengendalian cacingan di Indonesia Menetapkan sasaran selain anak SD atau MI juga anak-anak usia 1 hingga 4 tahun mengingat dampak yang ditimbulkan akibat cacingan pada anak usia dini akan menimbulkan kekurangan gizi menetap yang di kemudian hari akan menimbulkan dampak pendek menurut umur. Untuk itu program pengendalian cacingan dapat diintegrasikan dengan berbagai program yang memiliki sasaran yang sama yaitu program UKS untuk anak SD, sedangkan Untuk menjangkau anak usia 1 hingga 4 tahun maka integrasi dengan program pemberian vitamin A di posyandu”, jelasnya.

Dirinya juga menyebutkan, Kabupaten Inhil menjadi prioritas digelarnya sosialisasi dan advokasi POPM Kecacingan karena, Diskes Provinsi Riau dan Pusat menilai tingginya masalah kesehatan di Inhil diduga salah satunya merupakan penyakit cacingan.

Penanggulangan cacingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan dengan melalui pemberdayaan masyarakat dan peran swasta sehingga mereka mampu dan mandiri dalam melaksanakan penanggulangan cacingan yaitu berperilaku hidup bersih dan sehat meningkatkan kesehatan perorangan dan lingkungan dengan demikian diharapkan produktivitas kerja akan meningkat.

Dengan  digelarnya sosialisasi tersebut, Matzen berharap, para peserta dapat mengikuti dengan sebaik-baiknya serta menerapkan program diwilayah kerja Puskesmas masing-masing tepat sasaran untuk mengurangi angka prevalensi cacingan khususnya di kabupaten Inhil.

Tinggalkan Balasan

Silakan Masukkan Komentar Anda
Silakan Masukkan Nama Anda Disini