Skip to main content

DINAS KESEHATAN PROVINSI RIAU DAN DINAS KESEHATAN INHIL BERSINERGI

Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau dan Diskes Indragiri Hilir (Inhil) menggelar Workshop penyusunan rencana Kontijensi Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

Pertemuan yang dilaksanakan Selasa (18/9) pagi di Aula Hotel Inhil Pratama (IP) dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil H Zainal Arifin SKM MKES,  Kasi Karantina Kesehatan Wilayah dan PLBDN Subdit kekarantinaan Kesehatan, Direktorat Surveilans dan karantina kesehatan dr I Made Yosi Purbalingga Wirentama MKM, Fungsional Epidemiologi Kesehatan Subdit kekarantinaan Kesehatan, direktorat surveilans dan kekarantinaan Kesehatan ME Budiastuti SKM M Epid, Kasi Surveilans dan imunisasi Diskes Riau dr Siska Hidayati MKES, Kabid Kesmas Diskes Inhil, Kasi Surveilans dan imunisasi Diskes Inhil Herman Mahat, para camat, Kepala Puskesmas se-kabupaten Inhil serta tamu undangan.

Kadiskes dalam sambutannya mengatakan, situasi Global akhir-akhir ini menimbulkan ancaman masuknya penyakit penyakit baru yang melewati lintas wilayah dan lintas negara. Munculnya penyakit seperti legionellosis, mers Cover, Ebola serta penyakit new emerging dan  re-emerging diseases lainnya menjadi perhatian yang sangat serius bagi dunia internasional dan perlu diwaspadai. Indonesia merupakan salah satu negara anggota World health organization Who yang telah menyepakati untuk melaksanakan ketentuan Internasional health regulations (IHR) 2005.

Didalam IHR 2005 disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban mencegah melindungi dan mengendalikan penyebaran penyakit lintas negara serta melakukan tindakan yang dibutuhkan di mana semua Kegiatan di atas dilaksanakan sesuai dengan risiko kesehatan yang dihadapi tanpa menimbulkan gangguan yang berarti bagi lalu lintas dan perdagangan internasiona.

“Guna meningkatkan kemampuan deteksi dini dan respon cepat terhadap kasus penyakit yang kategori dalam KKMMD atau yang dikenal juga dengan istilah Publicly Health Emergency Of Internasional Concern (PHEIC) tersebut, maka perlu disusun rencana penguatan baik dalam hal kapasitas kerja di pintu masuk maupun di wilayah, sarana prasarana, sumber daya manusia, serta koordinasi kerjasama lintas sektor,”ujarnya.

Dilanjutkan Kadiskes, Paradigma yang harus dikembangkan adalah pendekatan pengendalian penyakit dan ancaman terhadap kesehatan masyarakat dilakukan di sumbernya. Untuk itu, kabupaten kota harus mengembangkan sistem yang mampu mendeteksi secara cepat suatu kejadian kesehatan masyarakat yang tidak lazim karena kecepatan deteksi akan menentukan tindakan pengendalian yang tepat baik waktu maupun metodenya.

Kegiatan deteksi dan respon kejadian di wilayah yang terintegrasi dan terkoordinasi dengan pintu masuk negara akan mengurangi potensi dampak terhadap kesehatan dan mencegah kejadian tersebut menjadi kedaruratan kesehatan masyarakat skala wilayah nasional dan internasional.

“Agar kegiatan program karantina wilayah dapat terintegrasi dengan karantina di pintu masuk maka perlu disusun rencana penguatan baik dalam hal kapasitas kerja di pintu masuk maupun di wilayah, sarana prasarana, sumber daya manusia, serta koordinasi kerjasama lintas sektor sehingga didapatkan dukungan pedoman rencana kontijensi di wilayah, peningkatan sumber daya, sarana prasarana,”imbuh Zainal.

Di Provinsi Riau, dikatakan Zainal, terdapat 5 kabupaten kota yang memiliki pintu masuk antar negara diantaranya adalah kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Meranti, Kota Dumai dan kota Pekanbaru. hal ini membutuhkan strategi dan prosedur dalam menanggapi potensi krisis atau kedaruratan yang mungkin terjadi.

Oleh karena itu, kabupaten kota diharapkan memiliki Dokumen rencana kontijensi penanggulangan KKMMD sebagai pedoman dalam rangka memperkuat sistem kewaspadaan dan respon penyakit potensial KLB.

“Tersedianya dokumen rencana kontijensi sebagai pedoman dalam melakukan aksi penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat akan menjadi instrumen kesiapsiagaan, deteksi dini dan respon cepat dalam hal menghadapi kemungkinan terjadinya kedaruratan kesehatan masyarakat,”tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *