Skip to main content

Ini Dampak Gerhana Matahari Cincin bagi Kesehatan Mata

Gerhana matahari cincin terlihat di Indonesia pada Kamis (26/12). Fenomena alam itu terjadi mulai pukul 10.34 WIB hingga puncaknya sekira pukul 12.19 WIB.

Masyarakat Indonesia pun bisa melihat fenomena alam yang jarang terjadi ini. Namun sebelum melakukan itu, ketahui dulu dampak menyaksikan gerhana matahari bagi kesehatan mata.

Dilansir dari berbagai sumber, melihat gerhana matahari cincin tanpa menggunakan peralatan keamaan yang memadai bakal membahayakan kesehatan mata. Solar eclips retinopathy, demikian namanya, gejalanya berupa titik hitam atau bulatan hitam di tengah penglihatan.

Saat matahari tertutup bayangan bulan, sinar ultraviolat dalam jumlah yang banyak akan terpancar. Inilah yang akan menyebabkan sakit mata berupa pandangan kabur dan bisa bertahan selama satu bulan hingga beberapa tahun. Bahkan, bukan tidak mungkin mengalami kebutaan.

Peneliti Planetarium dan Observatorium Jakarta, Widya Sawitar, juga mengingatkan bahaya yang mungkin timbul jika warga melihat langsung fenomena Gerhana Matahari Cincin dengan cara yang tidak aman.

Widya pun mengimbau agar masyarakat tidak menatap Gerhana Matahari Cincin terlalu lama. Selain itu, masyarakat juga harus menggunakan filter optik yang dirancang khusus untuk mengamati fenomena alam tersebut.

“Jangan sekali-kali melihat fenomena Gerhana Matahari terlalu lama secara langsung, berbahaya bagi mata. Apalagi dengan peranti optis seperti binokuler atau teleskop tanpa filter khusus,” tulis Widya di laman resmi Planetarium Jakarta.

Fenomena gerhana matahari cincin dapat diamati di Sumatera Utara (Simbolga dan Padang Sidempuan), Riau (Siak, Duri, Pulau Pedang, Pulau Bengkalis, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Rangsang), Kepulauan Riau (Batam dan Tanjung Pinang). Kemudian, Kalimantan Barat (Singkawang), Kalimantan Utara (Tanjung Selor) dan Kalimantan Timur (Makulit dan Berau). Adapaun Gerhana Matahari Sebagian dapat dilihat masyarakat yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Repost, Sumber : Indozone.id

Artikel ini telah tayang di Indozone.id dengan judul “Ini Dampak Gerhana Matahari Cincin bagi Kesehatan Mata”, https://www.indozone.id/health/9Ds57X/ini-dampak-gerhana-matahari-cincin-bagi-kesehatan-mata.

Penilaian Toga Intan Mulya Jaya Inhil Setelah Sabet Juara Tingkat Provinsi Riau

PELANGIRAN – Masuk nomimasi empat besar nasional lomba pemanfaatan tanaman obat keluarga (toga), Desa Intan Mulya Jaya, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) didatangi Tim Master Kesehatan Masyarakat (MKM).

Kedatangan tim ini melakukan penilaian dalam kategori lomba pemanfaatan toga dan akupresur untuk desa terpencil.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Inhil H. Zainal Arifin, SKM., M.Kes mengatakan Toga Melati 1 sampai 10 ini sudah lama dilaksanakan di Desa Intan Mulia Jaya Kecamatan Pelangiran dan terus selalu dilakukan binaan. 

“Toga Melati ini akan terus dikembangkan dan saya berharap semoga ini tidak hanya sebagai penilai atau pun lomba, melainkan ini bisa terus berjalan sesuai arahan Bupati bahwa tanaman  toga ini akan di kembangkan,” ungkap Kadiskes Inhil, Kamis (12/09/2019).

Selanjutnya, Ketua Tim MKM Dr. Nur Indah mengungkapkan, ini kali pertama dia datang ke Kabupaten Inhil dan sampai di Kecamatan Pelangiran Desa Intan Mulia Jaya.

Dalam kunjungan perdananya ini, Nur mengungkapkan kegagumannya terhadap Toga yang ada dipelosok Inhil ini. 

“Luar biasa dan mantap,” kata Dr. Nur.

Dr Nur mengungkapkan bahwa Desa Intan Mulia Jaya ini masuk dalam nominasi katagori Desa yang terpencil ditingkat Nasional.

“Jadi diharapkan setelah dilaksanakan penilaian Toga bisa terus berkembang dan diproduksi oleh masyarakat,” bebernya.

Dalam jangka 1 tahun mendatang, pihaknya akan kembali datang untuk melihat apakah tanaman obat ini berkembang atau tidak, ulasnya.

“Dan ini merupakan prinsip dalam penilaian. Dan saya ingin mewawancari binaan Toga kami,” jelas Dr. Nur. 

Kemudian, Bupati Inhil HM. Wardan, MP mengungkapkan bahwa sangat mengapresiasi dan menyambut baik dengan pelaksanaan seperti ini. 

“Kegiatan ini saya harap bisa dicontoh oleh Kecamatan yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir agar warga menjadi sehat, dan ini salah satu langkah pemanfaatan lingkungan,” ungkap Bupati Inhil. 

Dalam kesempatan ini juga HM Wardan menghimbau seluruh masyarakat Kabupaten Inhil agar selalu menjaga lingkungan jangan membakar lahan ataupun hutan karena sekarang kita sudah mengalami Kabut Asap yang sangat pekat.(ded)

Layanan Nikah Sehat Inovasi Puskesmas Tembilahan Kota

Tembilahan – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Tembilahan Kota realisasikan Layanan Nikah Sehat.

Sebelumnya ditahun 2016, Puskesmas Tembilahan Kota telah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) dan Konseling Pranikah bagi Calon Pengantin (Catin) dengan Kantor Urusan Agama (KUA).

Dengan dilatarbelakangi tingginya kasus ibu hamil dengan faktor resiko kematian ibu dan bayi serta rendahnya capaian imunisasi TT Wanita Usia Subur (WUS).

Dan pada tahun 2017 ditambah dengan pemeriksaan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk menjaring kasus tersebut.

Inovasi Kesehatan Reproduksi (Kespro) catin melalui program Nikah Sehat UPT Puskesmas Tembilahan Kota di tahun 2019 terus dikembangkan dengan bekerjasama rumah ibadah Gereja dan Vihara agar dapat mengcover seluruh catin baik muslim maupun non muslim.

“Harapannya agar dapat menekan penurunan kematian ibu dan bayi,” ungkap Kepala Puskesmas UPT Tembilahan Kota, drg. Hj. Wahyu Winda, M.Sis, Minggu (5/8/2019).

Dijelaskannya, Layanan Nikah Sehat tersebut berupa imunisasi TT Catin, Konseling Pranikah, Pemeriksaan HIV, Hepatitis B, Syphilis, HB Tes
Kehamilan dan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi yang anemia serta pemberian sertifikat nikah sehat.(ded)

UPT. PUSKESMAS TELUK PINANG MELAKUKAN PEMBINAAN TOGA DI KELOMPOK TOGA PARIT 11 TELUK PINANG

Dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat, UPT Puskesmas Teluk Pinang melaksanakan Pembinaan TOGA (Taman Obat Keluarga) di Kelompok Toga Parit 11 Teluk Pinang. Pembinaan ini merupakan pembinaan lanjutan sebelumnya dan akan terus berlanjut. Selasa, (29/01/2019).

Upaya pelayanan kesehatan tradisional merupakan pelayanan kesehatan yang secara tidak langsung berperan dalam menunjang pencapaian indikator Renstra Kementerian Kesehatan melalui Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional Ramuan dan keterampilan dalam tumbuh kembang balita, kesehatan ibu hamil dan nifas, maupun pemanfaatan pijat untuk kesegaran tubuh.

Upaya pembinaan pengobatan tradisional dapat dikembangkan berdasarkan pola upaya kesehatan Puskesmas, peran serta masyarakat dan rujukan kesehatan.

Tenaga promkes UPT Puskesmas Teluk Pinang, Kurota ayun, SKM Mengatakan “Dengan adanya Kegiatan pembinaan Toga diharapkan masyarakat bisa secara mandiri menggunakan obat tradisional yang bersumber dari tanaman herbal yang mereka tanam, ini juga bertujuan untuk mengurangi penggunaan obat kimia”

CATATAN HARIAN, SETAHUN BERKARIER SEBAGAI PROMOTOR KESEHATAN

Upaya promotif dan preventif telah lama digalakkan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah agar pelayanan kesehatan dapat menyuluruh dan merata tidak terlepas dari itu upaya promotif lebih menitik beratkan pada kegiatan yang bersifat mencegah sebelum datangnya suatu penyakit atau KLB (kejadian luar biasa).

Melalui peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (RI) Nomor 82 Tahun 2016 tentang Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) penekanan untuk kegiatan promotif dan preventif di puskesmas tergambar jelas. Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) ini diarahkan untuk meningkatkan kinerja puskesmas melalui upaya promotif dan preventif untuk mendukung pelayanan kesehatan di luar gedung.

Untuk itu dana BOK dapat digunakan untuk membayar 1 (satu) orang tenaga promosi kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan yaitu puskesmas. Adapun kontrak tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang mengacu pada peraturan yang berlaku.

Adapun ketentuannya tersebut sebagai berikut:

  1. Berpendidikan minimal D3 Kesehatan Masyarakat dengan peminatan promkes
  2. Diberikan honor minimal sesuai UMK yang berlaku dengan target kinerja
  3. Diberikan hak/fasilitas yang setara dengan staf Puskesmas lainnya termasuk JKN
  4. Lama kontrak maksimal 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang sesuai ketersedian anggaran dan capaian target kinerja

Setelah setahun saya berkarier sebagai tenaga kontrak suka dan duka, sudah saya jalani terjalnya kondisi di lapangan bukan menjadi penghalang untuk tetap mengabdi di masyarakat dan meyampaikan informasi kesehatan sekalipun akses yang sulit.

Disamping itu masih rendahnya capaian target imunisasi HB 0 (nol) untuk UPT Puskesmas Sungai Piring masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang harus sama-sama kita lakukan kerjasama antar lintas program dan masih rendah kesadaran masyarakat tentang berprilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)  terlihat dari pendataan keluarga Sehat (KS) serta  sanitasi yang buruk masih terdapat Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di daerah perkebunan, itu juga masih menjadi kendala besar dalam menciptakan desa bebas ODF.

Semoga kedepannya tenaga promotor  ini tidak dipandang sebelah mata dan tetap mendapatakan dukungan dari berbagai pihak khusunya bidang Kesesehatan. Tenaga promotor ini juga harus aktif di setiap kegiatan luar gedung dan turun langsung kelapangan untuk melihat situasi dan kondisi kesehatan masyarakat dengan misi menyampaikan, menggali informasi dan memberikan penyuluhan tentang isu kesehatan dalam pekan terakhir.

“Tetap semangat dalam memberikan informasi kesehatan yang di butuhkan masyarakat, mencegah lebih baik dari pada mengobati serta sehat di mulai dari diri sendiri”, inilah moto hidup saya.

 

Editor : Saipur Rahman

Sumber : Tenaga Promkes UPT Puskesmas Sungai Piring Tuty Auliyah SKM