Skip to main content

Sosialisasi BIAN Pada Anak Usia Dini Sebagai Cakupan Rutinitas Imunisasi.

TEMBILAHAN – Senin (23/05/2022)
Sosialisasi BIAN (Bulanan Imunisasi Anak Nasional) dilakukan oleh Puskesmas Tembilahan Hulu dengan sasaran para Anak dan Guru PAUD di Lokasi PAUD Riyadatul Jannah dan PAUD Sabilal Muhtadin Kec. Tembilahan Hulu Kab. Indragiri Hilir.

Sosialisasi BIAN dilakukan dalam upaya untuk mengatasi kesenjangan imunitas dan mengejar cakupan Imunisasi rutin yang menurun siginifikan akibat Pandemi.

Sejak Pandemi, kegiatan Imunitas sedikit terhambat karena adanya faktor yang bersifat sensitif seperti adanya pembatasan jarak serta terbatasnya kegiatan tatap muka.

“Anggita sebagai Penanggung Jawab Program PROMKES di Puskesmas Tembilahan Hulu menyebutkan Tujuan dari Sosialisasi BIAN perlu di ingatkan kembali kepada masyarakat serta Guru PAUD untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan BIAN yang diterapkan oleh Pemerintah untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi”

“Manfaat BIAN dapat mencegah kesakitan dan kecacatan akibat campak, Rubella, Polia, Difteri, Pertusis ( Batuk Rejan), Hepatitis B, Pneumonia( Radang Paru) dan Maringitis, (Radang Selaput Otak) sambungnya lagi”

Harapan dengan dilakukan nya Imunisasi agar masyarakat yang memiliki anak Usia 9 Bulan – 15 Tahun untuk segera melakukan Imunisasi rutin serta mengetahui penting nya Imunisasi yang telah diterapkan oleh Pemerintah.

Workshop Penguatan Akreditasi Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinas Kesehatan Indragiri Hilir

Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinas Kesehatan Indragiri Hilir mengadakan workshop “Penguatan Akreditasi Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinas Kesehatan Indragiri Hilir” selama 3 hari, dari tanggal 18 – 20 Mei 2022 di salah satu hotel di Tembilahan.

Kegiatan ini diikuti 35 orang peserta dari Labkesda dan beberapa puskesmas di Indragiri Hilir. Materi tentang standar dan instrument akreditasi laboratorium Labkesda disampaikan langsung oleh pemateri dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yaitu, dr. Willy A. Wullur, Sp.PK., dr. Amsahyuddin, Sp.PK., dan dr. Reni Lenggogeni, Sp.PK.

Foto : Aulia Firdaus/dok.MCT Dinkes Inhil
Foto : Aulia Firdaus/dok.MCT Dinkes Inhil

Dengan kegiatan workshop ini, diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas Labkesda Dinas Kesehatan Indragiri Hilir.

Sosialisasi Pemantapan SIMPUS dan Optimalisasi Penyusunan Data Profil Puskesmas

KEC BATANG TUAKA – KAMIS (11/05/2022)
Di Era Digital, kemudahan berbagai informasi sangat mudah untuk di akses. Untuk kemudahan dalam mendapatkan informasi seputar kesehatan, SIMPUS (Sistem Informasi Puskesmas) memberikan kemudahan sebagai pelayanan kesehatan dengan akses secara online.

Dinas Kesehatan Kab. Indragiri Hilir melakukan kegiatan Sosialisasi Pemantapan SIMPUS dan Optimalisasi Penyusunan Data Profil Puskesmas. Sosialisasi akan dilakukan di 3 (Tiga) Puskesmas seperti Puskesmas Sungai Piring, Puskesmas Sungai Iliran dan Puskesmas Teluk Pinang, kegiatan pertama dilakukan di Aula Puskesmas Sungai Piring pada Kamis (11/05/2022).

Sosialisasi Pemantapan SIMPUS ini diharapkan agar dapat mempermudah masyarakat dalam memperoleh seputar Informasi Kesehatan, saat ini Versi dari aplikasi SIMPUS sudah mencapai Versi 3.1.0. Sosialiasi Pemantapan ini bertujuan agar pengelolaan SIMPUS di Puskesmas lebih optimal.

Didalam pengembangan aplikasi SIMPUS yang terbaru, penyusunan data Profil Dinas Kesehatan Kab. Inhil akan lebih mudah tersusun dikarenakan beberapa laporan yang ada di tabel profil sudah ada sebagian di akomodir oleh SIMPUS.

Sehingga penyusunan profil di puskesmas yang ada di Kab. Inhil tidak lagi membutuhkan waktu yang panjang karena sudah dapat memangkas beberapa tahapan yang selama ini dikerjakan dalam penyusunan profil dan terhubung didalam cakupan Profil Dinas Kesehatan dengan menggunakan satu aplikasi SIMPUS.

Untuk itu dilakukan penyesuaian dan kerjasama kepala Puskesmas se kab. Inhil untuk menggerakkan pengelola program dan terutama sekali petugas SIK Puskesmas.

Indragiri Hilir, Juara Satu Capaian Vaksinasi di Provinsi Riau

Bulan Ramadhan tidak menyurutkan semangat para tenaga kesehatan di Kabupaten Indragiri Hilir dalam memberikan pelayanan vaksinasi bagi warga. Beberapa puskesmas bahkan ada yang menggelar kegiatan vaksinasi Covid-19 setelah shalat Tarawih.

Kegiatan vaksinasi covid-19 yang dilaksanakan setelah ibadah shalat Tarawih. (foto : dok. Dinkes Inhil)

Dengan nilai rata-rata 82,03%, Indragiri Hilir menempatkan diri sebagai juara satu capaian vaksinasi di Provinsi Riau per 17 April 2022, pukul 24.00 WIB.

Hingga hari ini, para petugas kesehatan, dibantu kepolisian daerah dan TNI setempat masih gencar melaksanakan kegiatan vaksinasi di beberapa titik lokasi. Lewat media sosial seperti facebook dan instagram, tiap puskesmas gencar mensosialisasikan jadwal kegiatan vaksinasi. Para tenaga kesehatan bahkan mendatangi rumah-rumah warga di pelosok demi terciptanya herd immunity Covid-19 di Kabupaten Indragiri Hilir.

Kegiatan vaksinasi Covid-19 di beberapa lokasi. (foto : dok.dinkes Inhil)

Bagi warga yang belum mendapat vaksinasi Covid-19, bisa mengunjungi puskesmas terdekat untuk mendapatkan pelayanan vaksinasi secara gratis. Warga juga bisa mendapatkan pelayanan vaksinasi Covid-19 saat kegiatan razia vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan kepolisian resort, kepolisian sektor, dan kodim di beberapa titik lalu lintas di Kabupaten Indragiri Hilir.

Layanan Imunisasi di Kuala Enok, Pantang Menyerah di Kala Pandemi

“Semua demi bayi dan balita yang sehat.” Ungkap Nursiah Sitompul saat melakukan kegiatan sapu (sweeping) imunisasi di Kuala Enok, Kabupaten Indragiri Hilir. Nursiah adalah petugas Kesehatan dari Puskesmas Kuala Enok. Dengan kegiatan sweeping imunisasi, bayi dan balita tetap mendapatkan kebutuhan imunisasi yang diperlukan.

Nursiah dan teman-temannya dari Puskesmas Kuala Enok selalu memantau kehadiran bayi dan balita yang datang saat jadwal posyandu tiba. Jika ada bayi atau balita yang tidak hadir, Nursiah akan menghubungi ibu dari bayi atau balita tersebut untuk menanyakan alasan kenapa tidak hadir.

“Biasanya yang tidak datang itu alasannya karena bayinya sakit, kadang-kadang ada juga saat jadwal posyandu, mereka sedang bepergian keluar daerah.” Ucap Nursiah.

Agar bayi dan balita yang tidak hadir tersebut tetap mendapatkan layanan imunisasi, Nursiah dan teman-temannya dari Puskesmas Kuala Enok mendatangi satu per satu rumah bayi dan balita tersebut di luar jadwal posyandu. Penerapan protokol kesehatan wajib dilakukan saat melakukan pelayanan imunisasi di tiap rumah.

Imunisasi sangat penting untuk melindungi orang-orang yang rentan dari Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.id, Plt. Dir. Pengelolaan Imunisasi, Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine menyebutkan bahwa imunisasi dasar lengkap saja belum cukup memberikan perlindungan terhadap PD3I karena beberapa antigen memerlukan besar atau pemberian dosis lanjutan pada usia 18 bulan, usia anak sekolah dan usia dewasa. Sehingga sekarang tidak hanya mengejar imunisasi dasar lengkap tapi juga mengejar imunisasi rutin lengkap.

Pemberian imunisasi yang terlambat atau tidak lengkap kepada anak menjadi salah satu hambatan dalam upaya meningkatkan kekebalan anak. Imunisasi kejar diperlukan untuk menyusul imunisasi anak yang tertunda.

Adapun jenis imunisasi rutin lengkap terdiri dari :
1. Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi Usia 0-11 bulan :
• HB0 1 dosis
• BCG 1 dosis
• DPT-HB-Hib 3 dosis
• Polio tetes (OPV) 4 dosis
• Polio suntik (IPV) 1 dosis
• Campak Rubela 1 dosis

2. Imunisasi Lanjutan Baduta pd anak usia 18-24 bulan :
• DPT-HB-Hib 1 dosis
• Campak Rubela 1 dosis

3. Imunisasi Lanjutan Anak Sekolah Dasar/sederajat pd Program Tahunan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
• Campak Rubela dan DT pd anak kls 1
• Td pada anak kls 2 dan 5

Tahun ini Pekan Imunisasi Dunia berlangsung pada tanggal 16-22 April 2022. Sejak tanggal 13 April 2022, petugas Puskesmas Kuala Enok sudah memberikan pelayanan imunisasi bagi bayi dan balita, pelayanan imunisasi juga menyasar ke kampung Suku Laut atau yang biasa disebut juga Suku Duano di Desa Tanjung Pasir dan Desa Sungai Laut pada tanggal 14 dan 16 April 2022.

Kendala transportasi dan geografis, tidak menyurutkan semangat para tenaga Kesehatan untuk menjangkau sasaran imunisasi. Untuk memberikan pelayanan imunisasi bagi bayi dan balita Suku Laut, petugas kesehatan harus menggunakan transportasi air seperti kapal cepat (speedboat). Kadang, saat air laut surut, mereka terpaksa mendorong speedboat ke tengah laut agar bisa berjalan. Belum lagi jika cuaca tidak bersahabat seperti hujan badai dan gelombang laut yang tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat imunisasi dapat mencegah lebih dari 26 penyakit, 2-3 juta kematian dapat dicegah setiap tahun dengan imunisasi, imunisasi juga membantu membatasi/ mengurangi terjadinya resistensi antibiotik karena dapat mencegah penyakit pada tahap awal.

Komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, capaian imunisasi rutin mengalami penurunan sejak tahun 2020. Berdasarkan laporan data imunisasi rutin (data pengawasan Oktober 2021), cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4% dari target 79,1%. Provinsi Banten baru mendekati target cakupan imunisasi dasar lengkap yakni 78,8%. Sementara sejumlah daerah lain yang cakupan imunisasi dasar lengkapnya di atas 60% antara lain Sulawesi Selatan, Bengkulu, Sumatera Utara, Bali, Gorontalo, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Timur, dan Jambi.

Berdasarkan pemantauan KPAI, cakupan imunisasi yang rendah dan tidak merata dapat menyebabkan timbulnya akumulasi populasi rentan yang tidak kebal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Jenis PD3I yang ada di Indonesia berupa BCG, polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis, campak, dan rubela. Tahun 2021 sudah terjadi peningkatan kasus PD3I di beberapa daerah dan berpotensi menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa), yakni difteri di Kalimantan Barat, terutama Sintang dan Singkawang; serta di Konawe Sulawesi Tenggara, Sementara itu, campak dan rubella sudah ada di beberapa daerah seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua.

dr. Tri Setyanti, M.Epid., Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Ditjen P2P Kemenkes Republik Indonesia menjelaskan setiap orang yang mendapatkan imunisasi akan membentuk antibodi spesifik terhadap penyakit tertentu. Apabila cakupan imunisasi tinggi dan merata dapat membentuk kekebalan kelompok dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan. Pemberian imunisasi pada kelompok usia tertentu (anak) dapat membatasi penularan kepada kelompok usia dewasa/orang tua. Herd Immunity dan proteksi lintas kelompok dapat terbentuk jika pemberian IMUNISASI RUTIN LENGKAP dilakukan sesuai pedoman/standar dengan CAKUPAN TINGGI DAN MERATA DI SETIAP TINGKATAN.

Nah, kita mungkin pernah mendengar seorang ibu, bahkan publik figur yang mengatakan bahwa anak-anaknya baik-baik saja, sehat-sehat saja walaupun tidak pernah mendapatkan pelayanan imunisasi. Bisa jadi, anaknya menjadi bagian dari kekebalan kelompok dari anak-anak yang sudah diimunisasi. Sudah banyak juga contoh kasus yang mengingatkan kita betapa pentingnya imunisasi. Misalnya, seorang guru di Pekanbaru yang sedang hamil, tertular virus rubella dari siswanya yang sakit campak. Virus tersebut menjangkiti bayi dalam kandungan si ibu guru dan menyebabkan kecacatan setelah lahir.

Semoga, Pekan Imunisasi Dunia 16-22 April 2022 bisa menjadi momentum bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan anak-anak di seluruh dunia. Semoga, pandemi tidak menurunkan semangat para tenaga kesehatan di Puskesmas Kuala Enok dan tenaga Kesehatan di seluruh dunia dalam memberikan pelayanan imunisasi, demi generasi penerus yang kuat dan sehat.

Penulis : Elvidayanty (Staf Media Center Team Dinas Kesehatan Indragiri Hilir, Riau)