DSCF3593Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir melalui Bidang Kesehatan Masyarakat dalam hal ini Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan kesehatan Olahraga menggelar pertemuan pengelolaan dan pengawasan limbah puskesmas se-Kabupaten Inhil (29/11/2017). Pertemuan yang dipusatkan di hotel Inhil Pratama (IP) ini, dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan H. Zainal Arifin SKM M.Kes, turut dihadiri Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Asiah M.SST, M.Kes, Kepala seksi (Kasi) Kesehatan Lingkungan, Kesehatan kerja dan olahraga Hj Devi Natalia SKM MH, para narasumber dari provinsi Riau, dari Dinas lingkungan hidup Kabupaten Inhil dan dari Dinas Kesehatan, serta 60 orang peserta.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Asiah M.SST, M.Kes selaku ketua panitia dalam sambutannya mengatakan, tujuan dari pertumbuhan ini adalah terwujudnya pengelolaan limbah medis padat di fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) secara benar dan aman sesuai persyaratan kesehatan bagi masyarakat baik di dalam maupun di sekitar fanyankes.

“Terwujudnya upaya pengendalian resiko kesehatan terhadap pengelola limbah. Terselenggaranya tata cara pencatatan dan pelaporan limbah medis padat di fasyankes secara benar dan berkesinambungan”, terangnya

“Terselenggaranya pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan limbah dan sampah medis di fasilitas pelayanan kesehatan”,tutupnya.

Sementara itu, Kadiskes Inhil dalam sambutannya mengatakan, fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya kesehatan secara menyeluruh dalam mewujudkan kondisi masyarakat yang sehat dan berkesinambungan. Saat ini pertumbuhan fasilitas pelayanan kesehatan semakin meningkat seperti Posyandu apotik klinik dan lainnya yang jika kita lihat lokasinya berdekatan dengan pemukiman masyarakat.

“Perkembangan jumlah fanyankes ini juga akhirnya meningkatkan jumlah sampah medis, akan tetapi belum diimbangi dengan peningkatan pengelolaan limbah medis yang benar dan aman”, terangnya

“Tentunya kita mengetahui bahwa limbah medis yang dihasilkan oleh fasyankes berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi menimbulkan infeksi serta cedera bagi masyarakat”,tambahnya.

Saat ini kita terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan mengupayakan terakreditasinya fasyankes baik tingkat dasar maupun rujukan seperti yang diatur dalam Permenkes nomor 46 tahun 2015 tentang akreditasi Puskesmas, klinik Pratama, tempat praktek Mandiri dokter, tempat praktek Mandiri dokter gigi. Begitupula dengan Permenkes nomor 12 tahun 2012 tentang akreditasi rumah sakit.

“Terakreditasinya rumah sakit dan fasyankes ini mensyaratkan limbah fasyankes yang benar dan aman. Fasyankes  sebagai ujung tombak dalam penyedia pelayanan kesehatan harus mampu menjadi contoh masyarakat dalam tata kelola lingkungan yang sehat dan bersih”, ucap Kadiskes

“Pemanfaatan sumber dana seperti DAK, APBD, BOK dan JKN perlu diupayakan untuk mendorong percepatan kualitas pelayanan kesehatan yang optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya komitmen dari semua pihak termasuk petugas pengelolaan limbah fasyankes dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola limbah di fasyankes secara bertanggung jawab sesuai standar atau pedoman yang berlaku”,tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here