IMG-20170715-WA0036Telah dilaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) di Balai Desa Kerta Jaya tanggal 15 juli 2017 pukul 10.00 wib. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Puskesmas Bapak Suharmin, SKM. MM. Beliau mengharapkan agar kegiatan MMD tidak hanya sekedar rencana tetapi perlu dilakukan action/ tindakan agar tujuan dapat dicapai. Peserta yang hadir mewakili Kepala Desa Kerta Jaya Bapak Rudi Hartono sebagai Kasi Pemerintah, Ibu Siti Zaleko (Bikor Puskesmas), Sri Rujiati, AMK (Koordinator Promkes), Hendra Wahyudi, AMK, Ari Rahmawati, Amd. Keb dan Octaverina, SKM (Tenaga Promkes), bidan desa kerta jaya dan ibu – ibu kader dan  kepala dusun lainnya. Lebih kurang masyarakat yang hadir dalam acara ini 55 orang.

  Musyawarah Masyarakat Desa sebagai tindak lanjut dari Survey Mawas Diri (SMD), selanjutnya dilakukan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yaitu pertemuan perwakilan warga desa untuk membahahas hasil Survey Mawas Diri (SMD) dan merencanakan penanggulanganan masalah kesehatan yang diperoleh dari hasil SMD. MMD tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang permasalahan yang sedang terjadi, penyebab permasalahan dan potensi permasalahan yang ada di desa, serta cara penyelesaiannya. Ada 5 faktor yang menjadi permasalahan di desa kerta jaya ini yaitu Persalinan yang ditolong oleh dukun bayi (P4K sama bidan tapi saat melahirkan sama dukun), masalah posyandu (ibu hamil dan posyandu anak – anak), kesehatan jamban tersedia tapi tidak memadai, kurang tersedianya penggunaan air bersih, dan pembangunan sampah belum tersedia (membuang sampah sembarangan).

 Dibeberapa daerah, keberadaan dukun bayi sebagai orang kepercayaan dalam menolong persalinan, sosok yang dihormati dan berpengalaman, sangat dibutuhkan oleh masayarakat keberadaannya. Berbeda dengan keberadaan bidan yang rata – rata masih muda dan belum seluruhnya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Sehingga perlu dicari suatu kegiatan yang dapat membuat kerjasama yang saling menguntungkan antara bidan dengan dukun bayi, dengan harapan pertolongan persalinan akan berpindah dari dukun bayi ke bidan. Dengan demikian, kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi resiko yang mungkin terjadi bila persalinan tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun.

 Dari 5 faktor masalah ini terdapatlah 2 faktor yang lebih memicu masyarakat untuk menanggulangani permasalahan ini yaitu pertama tentang Persalinan yang ditolong oleh dukun bayi. Masyarakat sepakat untuk membuat perjanjian, jikalau perjanjian ini dilanggar maka akan dikenakan sanksi administrasi seperti tidak dibuatan surat keterangan lahir dari pemerintah desa. Guna untuk efek jera bagi masyarakat yang melanggar perjanjian ini. Kedua masalah posyandu ibu hamil dan anak – anak. Pemerintah desa mendukung kegiatan posyandu ini dengan harapan tenaga kesehatan rutin melakukan kegiatan penyuluhan, senam kebugaran, dan bimbingan teknis dari bidan desa tersebut.

 Akhirnya musyawarah berlangsung baik dan hikmat, diakhiri do’a. Semua perangkat acara dan strukturnya berjalan dengan baik. Para kader dan kepala dusun menanggapi musyawarah ini dengan baik. Semoga segala rencana yang akan dilaksanakan berjalan dengan lancar. Amin ujar “Octaverina, SKM” (Promkes).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here