IMG-20170320-WA0010Tembilahan (18/3), penyakit DBD masih menjadi satu masalah kesehatan yang mengancam di Inhil terlebih lagi pada musim hujan yang sedang berlangsung saat ini.

Kondisi lingkungan yang kotor sangat berpengaruh terhadap penyebaran nyamuk Aides Aegypti penyebab DBD dan anak sekolah merupakan kelompok yang rentan terkena DBD, terutama di jam-jam kegiatan belajar-mengajar yaitu jam 8 pagi sampai jam 10 pagi.

Untuk itu, agar mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab Aides Aegypti UPT Puskesmas Tembilahan Kota gandeng Siswa MTsN praktek penggunaan ovitrap. Ovitrap adalah sebuah perangkap yang dibuat untuk menangkap telur dan nyamuk dewasa.

Kepala UPT Puskesmas Tembilahan Kota , drg. Wahyu Winda, M.Si mengatakan, Ovitrap merupakan salah satu langkah pembasmian nyamuk dengan cara yg lebih sederhana, mudah dan aman bagi lingkungan karna tidak menggunakan bahan kimia yg berbahaya bagi kesehatan.

Ia menjelaskan,  pembuatan ovitrap ini Cukup memanfaatkan bekas botol minuman plastik, kain kasa, plastik hitam, gula merah dan lakban. Botol plastik dipotong menjadi dua bagian. Kemudian kepala botol ditutup kain kasa dan dihadapkan terbalik ke dalam sisa potongan botol. Isi air gula sampai kain kasa terendam lalu Semua bagian botol dibungkus dengan plastik hitam.

“Ini untuk memancing agar nyamuk DBD bisa terpancing dan bertelur di dalam jebakan ini. Dengan adanya perubahan musim setiap saat, demam berdarah dengue ( DBD) bisa muncul dimana saja, sehingga kita perlu memutus siklus perkembangan nyamuk melalui alat tersebut” terang drg. Wahyu Winda, M.Si.

Dengan adanya sosialisasi pembuatan ovitrap kepada siswa MTsN, diharapkan dapat menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit terhadap dampak buruk akibat serangga khususnya nyamuk bagi kesehatan masyarakat.  Dimana para siswa nantinya diharapkan bisa memasang ovitrap sendiri dirumah dan mengajarkan kepada masyarakat dilingkungannya.

“Sehingga jika setiap rumah sudah memasang ovitrap maka dapat menekan angka populasi nyamuk, dan meminimalisir angka kasus DBD di masyarakat yang tentunya tetap diikuti dengan monitoring perilaku masyarakat setelah diberikan pemahaman tentang cara-cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN)”. tutupnya

Narasumber: Tenaga Promkes Monica Julya Hidayad, SKM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here